Translate

Sabtu, 18 Januari 2014

TRESNO BUDOYO
tresno budoyo adalah salah satu kesenian jatilan yg berdiri di BANGSAN SENDEN Kec.MUNGKID Kab.MAGELANG. tresno budoyo, pernah mendapatkan kejuaraan berkali-kali sejak ir.sorkarno masih memimpin negara indonesia. saat ir.soekarno keliling ke stiep pelosok kampung di dareah magelang, kesenian kamilah yg menyambut kedatangan beliau.

Tresno budoyo, pernah mendapat juara 1, tingkat kabupaten. itupun sudah berkali-kali. dan pernah mrndapat juara tingkat kecamatan, dan masih banyak kejuaran-kejuaraan yg diperoleh tresno budoyo.

Kesenian kami di termasukan kesenian jatilan yg tarianya lemah, lembut, dan menghayati. tetapi ada juga yg tarianya keras dan sangar. tarian kami di mainkan oleh : 6 penari kuda kepang, 2 penari barongan ( satu barongan ) dan beberapa pemain topeng buto. kesenian kami di mainkan dengan semeriah mungkin

Rabu, 15 Januari 2014

KESENIAN JATHILAN

Jatilan adalah sebuah kesenian yang menyatukan antara unsur gerakan tari dengan magis. Jenis kesenian ini dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Kesenian yang juga sering disebut dengan nama jaran kepang ini dapat dijumpai di daerah-daerah Jawa.
Mengenai asal-usul atau awal mula dari kesenian jatilan ini, tidak ada catatan sejarah yang dapat menjelaskan dengan rinci, hanya cerita-cerita verbal yang berkembang dari satu generasi kegenerasi lain. Dalam hal ini, ada beberapa versi tentang asal-usul atau awal mula adanya kesenian jatilan ini, diantaranya adalah sebagai berikut. Konon, jatilan ini yang menggunakan properti berupa kuda tiruan yang terbuat dari bambu ini merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Selain itu, ada versi lain yang menyebutkan, bahwa jatilan menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Adapun versi lain menyebutkan bahwa tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, raja Mataram untuk mengadapi pasukan Belanda.
Pagelaran kesenian ini dimulai dengan tari-tarian oleh para penari yang gerakannya sangat pelan tetapi kemudian gerakanya perlahan-lahan menjadi sangat dinamis mengikuti suara gamelan yang dimainkan. Gamelan untuk mengiringi jatilan ini cukup sederhana, hanya terdiri dari drum, kendang, kenong, gong, dan slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking. Lagu-lagu yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta, namun ada juga yang menyanyikan lagu-lagu lain. Setelah sekian lama, para penari kerasukan roh halus sehingga hampir tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan, mereka melakukan gerakan-gerakan yang sangat dinamis mengikuti rancaknya suara gamelan yang dimainkan.
Di samping para penari dan para pemain gamelan, dalam pagelaran jatilan pasti ada pawang roh yaitu orang yang bisa “mengendalikan”roh-roh halus yang merasuki para penari. Pawang dalam setiap pertunjukan jatilan ini adalah orang yang paling penting karena berperan sebagai pengendali sekaligus pengatur lancarnya pertunjukan dan menjamin keselamatan para pemainnya. Tugas lain dari pawang adalah menyadarkan atau mengeluarkan roh halus yang merasuki penari jika dirasa sudah cukup lama atau roh yang merasukinya telah menjadi sulit untuk dikendalikan.
Selain melakukan gerakan-gerakan yang sangat dinamis mengikuti suara gamelan pengiring, para penari itu juga melakukan atraksi-atraksi berbahaya yang tidak dapat dinalar oleh akal sehat. Di antaranya adalah mereka dapat dengan mudah memakan benda-benda tajam seperti silet, pecahan kaca, menyayat lengan dengan golok bahkan lampu tanpa terluka atau merasakan sakit. Atraksi ini dipercaya merefleksikan kekuatan supranatural yang pada jaman dahulu berkembang di lingkungan kerajaan Jawa, dan merupakan aspek nonmiliter yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.
Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional jatilan ini seringkali juga mengandung unsur ritual karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang atau dukun melakukan suatu ritual yang intinya memohon ijin pada yang menguasai tempat tersebut yang biasanya ditempat terbuka supaya tidak menggangu jalannya pagelaran dan demi keselamatan para penarinya.
Pagelaran ini seperti pagelaran seni yang lainnya yang umumnya mempunyai suatu alur cerita. Jadi biasanya jatilan ini membawakan sebuah cerita yang disampaikan dalam bentuk tarian. Saat ini tidak banyak orang yang melihat pertunjukan seni dari sisi pakem bentuk kesenian tersebut melainkan dari sisi hiburannya, yang mereka lihat dan lebih mereka senangi adalah bagian dimana para pemain jathilan ini seperti kerasukan dan melakukan atraksi-atraksi berbahaya. Jadi masyarakat melihat Jathilan sebagai sebuah pertunjukan tempat pemain kerasukan. Bukan sebagai pertunjukan yang ingin bercerita tentang suatu kisah.
Kesenian jatilan yang dipertunjukan pada upacara adat Mbah Bergas diawali dengan kesenian warok-warokan, yaitu suatu bentuk kesenian yang berjudul Suminten Edan”. Lakon ini bercerita tentang Suromenggolo yang mempunyai anak bernama Cempluk. Suromenggolo mempunyai saudara seperguruan yang bernama Surobangsat. Surobangsat dan Suromenggolo telah lama tidak berjumpa sehingga ia mengunjungi Suromenggolo. Surobangsat mempunyai anak yang bernama Gentho. Surobangsat bermaksud menjodohkan Gentho dengan cempluk. Namun Suromenggolo tidak setuju. Kemudian terjadilah pertarungan antara keduanya. Surobangsat kalah setelah Suromenggolo mengeluarkan aji-aji pamungkas yang berupa kolor.
Setelah pertunjukan warok-warokan selesai, dilanjutkan dengan pertunjukan tarian oleh pasukan buto yang berjumlah sepuluh orang penari. Tarian ini sebagai kreasi atau sebagai perkembangan dari pertunjukkan jatilan untuk lebih memeriahkan pertunjukan jatilan dan menarik perhatian warga untuk menyaksikan. Gerakan-gerakan tarian ini sangat dinamis dan enerjik, gerakan yang serempak para penari membuat para penonton terpesona.
Aksesoris yang dipakai para penari antara lain gelang kaki, gelang tangan, dan topeng buto yang berwujud hewan-hewan seperti harimau, domba, dan singa. Gerakan yang sangat cepat dan lincah dari para penari membuat gelang kaki yang mereka pakai menimbulkan irama yang rancak.
Setelah pertunjukan tarian buto selesai kemudian dilanjutkan tarian jatilan. Jumlah penari jatilan ada sepuluh orang. Aksesoris yang digunakan antara lain gelang tangan, gelang kaki, ikat lengan, kalung (kace), mahkota (kupluk Panji), dan keris. Makna dari busana dan aksesoris yang digunakan adalah meniru tokoh Panji Asmarabangun, yaitu putra dari kerajaan Jenggala Manik. Dalam pertunjukan jatilan ini juga ada tiga pawang yang bertugas untuk mengatur, menjaga dan menjamin lancarnya pertunjukan, pawang-pawang ini juga bertugas untuk menyadarkan para penari yang kerasukan.
Dalam pertunjukan jatilan juga disediakan beberapa jenis sesaji antara lain pisang raja satu tangkep, jajanan pasar yang berupa makanan-makanan tradisional, tumpeng robyong yaitu tumpeng robyong yang dihias dengan kubis, dawet, beraneka macam kembang, dupa Cina dan menyan, ingkung klubuk (ayam hidup) yang digunakan sebagai sarana pemanggilan makhluk halus dan lain-lain.
Jatilan yang ditampilkan dalam upacara adat Mbah Bergas merupakan sajian dari Paguyuban Kesenian Kuda Lumping Putra Manunggal. Paguyuban ini didirikan sekitar pada tahun 1992. Para penari jatilan berserta penabuh gamelan kurang lebih berjumlah empat puluh orang. Mereka berlatih setiap satu bulan sekali pada pertengahan bulan (biasanya pada malam minggu). Cerita yang disajikan adalah mengadopsi dari Jatilan klasik, yaitu tentang cerita tokoh Kresna. Sedangkan pada warok-warokan selain menampilkan cerita “Suminten Edan” juga mengambil cerita dari babad-babad Jawa, antara lain perang Prabu Baka dengan para Buto.

AKSI PEMAIN TRESNO BUDOYO

TRESNO BUDOYO Live in BANGSAN







                                                           

                                                                                                   

TOPENG ALA TRESNO BUDOYO

Bangsan, Senden, Kec.Mungkid, Kab.Magelang







Fenomena Jaran Kepangan dan upaya Melestarikan Kesenian Daerah



Tulisan yang satu ini tidak akan saya abaikan begitu saja, dimana boleh saya katakan Kebangkitan Maraknya Kesenian Daerah di Temanggung yang sekian lama mengalami stagnasi akibat Kebijakan Pemerintah yang terfrosir banyak hal, merupakan hasil dari sikap peduli Dinas Pariwisata dan Pewrhubungan Kab. Temanggung dikala Kepala Dinasnya dipegang oleh Ir Budiarto, ST.
Pada tahun 2006, yang waktu itu kebijakan dearah ada pada Wakil Bupati Temanggung, Drs. M Irfan (almarhum), gagasan membangkitkan potensi kesenian daerah dilontarkan oleh Ir Budiarto bersama jajaran staf dinas yang waktu itu juga ada Didik (sekarang masih bertandang di Dinas Kebudayaan).
Ketika lontaran itu disampaikan pada Rapat Koordinasi di Komisi B yang menangani sempat terjadi kealotan pembahasan. RAB yang disodorkan untuk mencapai hasrat tadi sekitar 300 juta, namun karena banyak hal yang mesti disikapi menyangkut keterbatsan anggaran ada sedikit dilematis Komisi B merekomendasikan. Sebagai seniman, saya tentu tidak tinggal diam dan terus mengawal dan member argumentasi yang akhirnya bisa muncul pada item bagian Rekomendasi Komisi B. Hasratnya kegiatan melestarikan budaya melalui even pawai di hari jadi kota Temanggung harus bisa menjadi pertimbangan krusial. Waktu itu, Ir Budiarto menyampaikan beberapa argumentasi diantaranya Kebgiatan public semacam memupuk dan melestarikan budaya melalui pawai kesenian sangat erat dengan membangun ekonomi rakyat kecil, yang berarti sangat potensi memakmurkan masyarakat disamping sebagai entertainment dan nilai nilai filosofis lainnya, seperti membaurkan masyarakat dalam satu kesatuan ikatan social.
Saya juga masih ingat, bagaimana dalam pembahasan Anggaran yang dipimpin Drs. Tunggul Purnomo dari Fraksi Golkar, akhirnya menyatakan walau dengan guyonan, ia mengatakan : “Aspirasi dinas yang di backup Pardiyono ini kita penuhi saja, nanti Pardiyono ndak kesurupan!”
Jauh sebelum itu, saya melakukan kontak person dengan Pak Irfan, agar kegiatan pawai kesenian dengan anggaran 300 juta jangan dipersulit meskipun mungkin Pak Irfan yang orang PPP agak ragu. Saya yakinkan meskipun saya sendiri orang PPP tapi loyal kepada kesenian daerah. Saya selalu tidak peduli dengan anggapan tabu sebagian teman teman dari PPP lain yang cenderung ‘menertawai’. Sampai kapanpun, saya tetap akan eksis dan memperjuangkan melaju dan berkembangnya kesenian daerah seperti jaran kepang, kubro, kuntulan, bangilun, dsb. (lihat youtube dan ketik Maspar100 – seberapa banyak saya mengunggah video kesenian khas trand Temanggungan)
Sikap saya dengan Ir Budiarto dalam memberi ruang gerak cukup terhadap kesenian daerah boleh di kros cek pada sumber sumber resmi.
Sebagai seniman, sayapun akan terus bekerja sama melestarikan kesenian daerah   bersama   Ir Budiarto. Harapan saya,   kalaulah  Ir Budiarto menjadi Bupati, saya yakin gerakan melestarikan kesenian daerah jauh lebih maju dan marak. Mengapa?
Ketika Ir Budiarto hanya Kepala Dinas saja, mampu membuat inofasi baru yang menjadikan Temanggung memperoleh penghargaan MUR.
Aktion yang dilakukan, dengan menampilkan 100 bentuk kesenian main bareng di aloon aloon belum pernah terjadi di daerah manapun.
Memang secata etika, Record MURI ditujukan kepada Pimpinan Daerah, namun bukti sejarah tak bisa dipungkiri bahwa awal inisiatornya adalah Kepala Dinas Pariwisata dan Perbubungan.
Ada apa Kesenian Daerah harus dibangkitkan saat itu? 

Pada era tahun 60-70-an, yang namanya jathilan
, jaran kepangan cukup diminati disetiap lapisan masyarakat, tidak perduli di perkotaan. Hampir setiap desa dan kelurahan memiliki kelompok kesenian jathilan/jaranan. Pada tahun-tahun itu pula, utamanya Sekolah-sekolah Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar menyantumkan pelajaran yang bermuatan local atau ekstra kurikulernya dengan mengajarkan pada anak-anak didiknya untuk mendalami jathilan/jaranan atau setidaknya sendratari jawa. Bahkan diajarkan pula ‘klonengan’ atau ‘moco pat’. Sudah barang tentu pada even-even lomba kesenianpun tidak ketinggalan muatan adu asah bermain jathilan, moco pat atau sendratari pasti dipertandingkan

Kemana larinya kesenian seperti itu selama itu? Nampaknya ada tiga hal yang menjadi sebab tersisihnya dari kebijakan pemerintah maupun arena masyarakat. Yang pertama; muncul dari sikap internal para pelaku kesenian yang lumpuh akan idialisme keseniannya, dimana mestinya seniman meletakkan fungsi kesenian sebagai alat mempertajam tatanan moral masyarakat dan bukan mencari popularitas yang mengarah pada kesenian professional yang diukur dengan komersialitas. Karena penyimpangan dari arah berkesenian ini, sehingga yang terjadi keberadaan pelaku kesenian tergeser oleh saingan-saingan pelaku kesenian yang sudah ternama.
Yang kedua; adalah peran Lembaga
 Kesenian  yang  ada  kurang   didukung tenaga terampil kesenian yang memadai sehingga kurang memiliki pula ‘sifat kecemburuan’, Hal ini mengakibatkan pola pembinaan terhambat dengan sendirinya. Barometer untuk mengadakan pembinaan ukurannya adalah dana yang tercukupi, sehingga apabila dana tidak mengucur maka otomatis menjadi lumpuh. Dan yang ketiga; adalah factor eksternal yang melibatkan komponen masyarakat secara umum. Bergesernya animo masyarakat yang mulai tidak berminat dengan kesenian tradisional seperti jathilan dikarenakan pengaruh-pengaruh media lainnya yang berhasil menina bobokkan dengan munculnya instrumen instrumen kesenian yang lebih beraroma elektrik.
Dari tiga hal itu apabila tidak segera diatasi maka semakin tersudutlah kesenian rakyat jawa, termasuk jathilan
atau jaranan.

Sebenarnya tidak ada yang salah ketika orang memilih cara berkesenian apapun, namun mestinya siapaun harus paham bahwa di dalam berkesenian itu tersirat sebuah missi kemanusiaan yang tidak pernah berhenti. Dan ketika kita berbicara missi kemanusiaan yang di dalamnya memberi pengertian mengajarkan jiwa manusia untuk lebih mendekat dengan Tuhannya (teosentris), menghargai sebuah kemanusiaan itu sendiri (humanisme) dan sikap peduli untuk selalu melestarikannya (progresif) maka kesenian Jathilan dan kesenian tradisonal lainnya patut kita perhatikan bersama.

Pada tahun-tahun itu, di perkotaan ini pernah ‘moncer’ kesenian seperti Kethoprak, Wayang Kulit, Kubro-siswo, Lengger, Sendratari, Jan-janen dan Jathilan. Tapi
tiba tiba padam meski disorot beberapa ‘lampu - sokle’(produc Bupati Totok)  menghiasi penataan kota. Betapa akan lebih hebat apabila keberadaan lampu-lampu hias itu mampu ‘memadangi’ kesenian tradisionil yang menjadi simbul kebanggaan masyarakat Temanggung.
Lewat tulisan ini, saya berharap agar Ir Budiarto dan Dedi Haryadi bergerak bersama untuk tetap menjaga dan memperhatikan kesenian Daerah seperti yang sudah pernah dilakukan. Saya sangat percaya, bila pasangan Berbudi menjadi Pimpinan Daerah akan melakukan langkah langkah stregi kesenian dengan    mengoptimalkan   Peran  Lembaga  Kesenian     Pemerintah  (Dinas Kebudayan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga) untuk lebih inovatif. Selanjutnya akan melakukan aksi ‘memasyarakatkan kesenian tradisional’ dengan ‘Gerakan Cinta Kesenian Tradisional (GCKT)’ selanjutnya ditindak lanjuti dengan sikap peduli dari semua Intasnsi Pemerintah. Kantor-Kantor Dinas dan isntansi lainnya dapat berkewajiban sebagai pembina dari sector subsidi pendanaan. Tidak ada salahnya kalau Kantor Dinas dan instansi lainnya sampai Kepala Kelurahan atau Kepala Desa didorong deprogram agar memiliki kesenian binaan yang nunsanya kesenian tradisionil seperti Kubro Siswo, Wulan Sunu, Lengger, Kethoprak, Campursari, Terbangan/hadaro, Jan-janen, Kontulan dan tidak ketinggalan Jathilan atau jaranan itu sendiri. Itu cara cepat meningkatkan kualitas kesenian tradsional agar dengan demikian Temanggung menjadi kaya budaya yang memiliki jati diri yang pasti. Temanggung tak bias dipisahkan dengan kesenian seperti tadi. Percayalah, di dalam kesenian tradisonil terkandung di dalamnya suri tauladan yang dapat menempa jiwa manusia agar lebih komunikatif dengan apapun dan siapapun. Kalau diukur dengan harga sebuah benda atau materi lainnya belum ada yang bisa menandingi. Dan kalau ini punah kerugiannyapun tak bisa ditebus dengan benda apapun. Karena itu tepat sekali slogan yang dikobarkan dengan kalimat : Dengan bertaqwa hidup kita ibadah, dengan bekerja hidup kita menjadi mudah, dan dengan kesenian hidup kita menjadi indah.

Yang lebih penting lagi sebuah martabat masyarakat bis
a terangkat hanya oleh sebuah kesenian. Kalau Wayang Kulit sekarang diakui internasional sebagai kesenian Indonesia yang mampu mengangkat martabat bangsa, mengapa kita ragu apabila jathilan, jaranan dan kesenian tradisional lainnya yang apabila dikembangkan dengan segala kepastian dapat membawa nama baik Temanggung di mata dunia.
Percayalah, saya tidak akan diam dalam memajukan kesenian daerah dan saya sangat yakin semua bisa terwujud, manakala Ir Budiarto MT dan Dedi Haryadi, SE menjadi Pimpinan Daerah Kabupaten Temanggung 2013-2018.