Translate

Rabu, 15 Januari 2014

Fenomena Jaran Kepangan dan upaya Melestarikan Kesenian Daerah



Tulisan yang satu ini tidak akan saya abaikan begitu saja, dimana boleh saya katakan Kebangkitan Maraknya Kesenian Daerah di Temanggung yang sekian lama mengalami stagnasi akibat Kebijakan Pemerintah yang terfrosir banyak hal, merupakan hasil dari sikap peduli Dinas Pariwisata dan Pewrhubungan Kab. Temanggung dikala Kepala Dinasnya dipegang oleh Ir Budiarto, ST.
Pada tahun 2006, yang waktu itu kebijakan dearah ada pada Wakil Bupati Temanggung, Drs. M Irfan (almarhum), gagasan membangkitkan potensi kesenian daerah dilontarkan oleh Ir Budiarto bersama jajaran staf dinas yang waktu itu juga ada Didik (sekarang masih bertandang di Dinas Kebudayaan).
Ketika lontaran itu disampaikan pada Rapat Koordinasi di Komisi B yang menangani sempat terjadi kealotan pembahasan. RAB yang disodorkan untuk mencapai hasrat tadi sekitar 300 juta, namun karena banyak hal yang mesti disikapi menyangkut keterbatsan anggaran ada sedikit dilematis Komisi B merekomendasikan. Sebagai seniman, saya tentu tidak tinggal diam dan terus mengawal dan member argumentasi yang akhirnya bisa muncul pada item bagian Rekomendasi Komisi B. Hasratnya kegiatan melestarikan budaya melalui even pawai di hari jadi kota Temanggung harus bisa menjadi pertimbangan krusial. Waktu itu, Ir Budiarto menyampaikan beberapa argumentasi diantaranya Kebgiatan public semacam memupuk dan melestarikan budaya melalui pawai kesenian sangat erat dengan membangun ekonomi rakyat kecil, yang berarti sangat potensi memakmurkan masyarakat disamping sebagai entertainment dan nilai nilai filosofis lainnya, seperti membaurkan masyarakat dalam satu kesatuan ikatan social.
Saya juga masih ingat, bagaimana dalam pembahasan Anggaran yang dipimpin Drs. Tunggul Purnomo dari Fraksi Golkar, akhirnya menyatakan walau dengan guyonan, ia mengatakan : “Aspirasi dinas yang di backup Pardiyono ini kita penuhi saja, nanti Pardiyono ndak kesurupan!”
Jauh sebelum itu, saya melakukan kontak person dengan Pak Irfan, agar kegiatan pawai kesenian dengan anggaran 300 juta jangan dipersulit meskipun mungkin Pak Irfan yang orang PPP agak ragu. Saya yakinkan meskipun saya sendiri orang PPP tapi loyal kepada kesenian daerah. Saya selalu tidak peduli dengan anggapan tabu sebagian teman teman dari PPP lain yang cenderung ‘menertawai’. Sampai kapanpun, saya tetap akan eksis dan memperjuangkan melaju dan berkembangnya kesenian daerah seperti jaran kepang, kubro, kuntulan, bangilun, dsb. (lihat youtube dan ketik Maspar100 – seberapa banyak saya mengunggah video kesenian khas trand Temanggungan)
Sikap saya dengan Ir Budiarto dalam memberi ruang gerak cukup terhadap kesenian daerah boleh di kros cek pada sumber sumber resmi.
Sebagai seniman, sayapun akan terus bekerja sama melestarikan kesenian daerah   bersama   Ir Budiarto. Harapan saya,   kalaulah  Ir Budiarto menjadi Bupati, saya yakin gerakan melestarikan kesenian daerah jauh lebih maju dan marak. Mengapa?
Ketika Ir Budiarto hanya Kepala Dinas saja, mampu membuat inofasi baru yang menjadikan Temanggung memperoleh penghargaan MUR.
Aktion yang dilakukan, dengan menampilkan 100 bentuk kesenian main bareng di aloon aloon belum pernah terjadi di daerah manapun.
Memang secata etika, Record MURI ditujukan kepada Pimpinan Daerah, namun bukti sejarah tak bisa dipungkiri bahwa awal inisiatornya adalah Kepala Dinas Pariwisata dan Perbubungan.
Ada apa Kesenian Daerah harus dibangkitkan saat itu? 

Pada era tahun 60-70-an, yang namanya jathilan
, jaran kepangan cukup diminati disetiap lapisan masyarakat, tidak perduli di perkotaan. Hampir setiap desa dan kelurahan memiliki kelompok kesenian jathilan/jaranan. Pada tahun-tahun itu pula, utamanya Sekolah-sekolah Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar menyantumkan pelajaran yang bermuatan local atau ekstra kurikulernya dengan mengajarkan pada anak-anak didiknya untuk mendalami jathilan/jaranan atau setidaknya sendratari jawa. Bahkan diajarkan pula ‘klonengan’ atau ‘moco pat’. Sudah barang tentu pada even-even lomba kesenianpun tidak ketinggalan muatan adu asah bermain jathilan, moco pat atau sendratari pasti dipertandingkan

Kemana larinya kesenian seperti itu selama itu? Nampaknya ada tiga hal yang menjadi sebab tersisihnya dari kebijakan pemerintah maupun arena masyarakat. Yang pertama; muncul dari sikap internal para pelaku kesenian yang lumpuh akan idialisme keseniannya, dimana mestinya seniman meletakkan fungsi kesenian sebagai alat mempertajam tatanan moral masyarakat dan bukan mencari popularitas yang mengarah pada kesenian professional yang diukur dengan komersialitas. Karena penyimpangan dari arah berkesenian ini, sehingga yang terjadi keberadaan pelaku kesenian tergeser oleh saingan-saingan pelaku kesenian yang sudah ternama.
Yang kedua; adalah peran Lembaga
 Kesenian  yang  ada  kurang   didukung tenaga terampil kesenian yang memadai sehingga kurang memiliki pula ‘sifat kecemburuan’, Hal ini mengakibatkan pola pembinaan terhambat dengan sendirinya. Barometer untuk mengadakan pembinaan ukurannya adalah dana yang tercukupi, sehingga apabila dana tidak mengucur maka otomatis menjadi lumpuh. Dan yang ketiga; adalah factor eksternal yang melibatkan komponen masyarakat secara umum. Bergesernya animo masyarakat yang mulai tidak berminat dengan kesenian tradisional seperti jathilan dikarenakan pengaruh-pengaruh media lainnya yang berhasil menina bobokkan dengan munculnya instrumen instrumen kesenian yang lebih beraroma elektrik.
Dari tiga hal itu apabila tidak segera diatasi maka semakin tersudutlah kesenian rakyat jawa, termasuk jathilan
atau jaranan.

Sebenarnya tidak ada yang salah ketika orang memilih cara berkesenian apapun, namun mestinya siapaun harus paham bahwa di dalam berkesenian itu tersirat sebuah missi kemanusiaan yang tidak pernah berhenti. Dan ketika kita berbicara missi kemanusiaan yang di dalamnya memberi pengertian mengajarkan jiwa manusia untuk lebih mendekat dengan Tuhannya (teosentris), menghargai sebuah kemanusiaan itu sendiri (humanisme) dan sikap peduli untuk selalu melestarikannya (progresif) maka kesenian Jathilan dan kesenian tradisonal lainnya patut kita perhatikan bersama.

Pada tahun-tahun itu, di perkotaan ini pernah ‘moncer’ kesenian seperti Kethoprak, Wayang Kulit, Kubro-siswo, Lengger, Sendratari, Jan-janen dan Jathilan. Tapi
tiba tiba padam meski disorot beberapa ‘lampu - sokle’(produc Bupati Totok)  menghiasi penataan kota. Betapa akan lebih hebat apabila keberadaan lampu-lampu hias itu mampu ‘memadangi’ kesenian tradisionil yang menjadi simbul kebanggaan masyarakat Temanggung.
Lewat tulisan ini, saya berharap agar Ir Budiarto dan Dedi Haryadi bergerak bersama untuk tetap menjaga dan memperhatikan kesenian Daerah seperti yang sudah pernah dilakukan. Saya sangat percaya, bila pasangan Berbudi menjadi Pimpinan Daerah akan melakukan langkah langkah stregi kesenian dengan    mengoptimalkan   Peran  Lembaga  Kesenian     Pemerintah  (Dinas Kebudayan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga) untuk lebih inovatif. Selanjutnya akan melakukan aksi ‘memasyarakatkan kesenian tradisional’ dengan ‘Gerakan Cinta Kesenian Tradisional (GCKT)’ selanjutnya ditindak lanjuti dengan sikap peduli dari semua Intasnsi Pemerintah. Kantor-Kantor Dinas dan isntansi lainnya dapat berkewajiban sebagai pembina dari sector subsidi pendanaan. Tidak ada salahnya kalau Kantor Dinas dan instansi lainnya sampai Kepala Kelurahan atau Kepala Desa didorong deprogram agar memiliki kesenian binaan yang nunsanya kesenian tradisionil seperti Kubro Siswo, Wulan Sunu, Lengger, Kethoprak, Campursari, Terbangan/hadaro, Jan-janen, Kontulan dan tidak ketinggalan Jathilan atau jaranan itu sendiri. Itu cara cepat meningkatkan kualitas kesenian tradsional agar dengan demikian Temanggung menjadi kaya budaya yang memiliki jati diri yang pasti. Temanggung tak bias dipisahkan dengan kesenian seperti tadi. Percayalah, di dalam kesenian tradisonil terkandung di dalamnya suri tauladan yang dapat menempa jiwa manusia agar lebih komunikatif dengan apapun dan siapapun. Kalau diukur dengan harga sebuah benda atau materi lainnya belum ada yang bisa menandingi. Dan kalau ini punah kerugiannyapun tak bisa ditebus dengan benda apapun. Karena itu tepat sekali slogan yang dikobarkan dengan kalimat : Dengan bertaqwa hidup kita ibadah, dengan bekerja hidup kita menjadi mudah, dan dengan kesenian hidup kita menjadi indah.

Yang lebih penting lagi sebuah martabat masyarakat bis
a terangkat hanya oleh sebuah kesenian. Kalau Wayang Kulit sekarang diakui internasional sebagai kesenian Indonesia yang mampu mengangkat martabat bangsa, mengapa kita ragu apabila jathilan, jaranan dan kesenian tradisional lainnya yang apabila dikembangkan dengan segala kepastian dapat membawa nama baik Temanggung di mata dunia.
Percayalah, saya tidak akan diam dalam memajukan kesenian daerah dan saya sangat yakin semua bisa terwujud, manakala Ir Budiarto MT dan Dedi Haryadi, SE menjadi Pimpinan Daerah Kabupaten Temanggung 2013-2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar